Minggu, 08 Mei 2011

Tetaplah Minum, Walau Cuaca Dingin

Setiap di kantor, Anda selalu berfokus pada layar komputer. Udara dingin yang menyembur melalui alat penyejuk udara membuat anda merasa nyaman di kantor. Keringat jarang keluar.
Bekerja di bagian personalia membuat Anda lebih banyak menghabiskan waktu di depan komputer. “Jarang bergerak karena di depan komputer saja seharian, akibatnya, anda merasa jarang lelah, sehingga jarang minum air. “Soalnya tidak haus.”
Padahal rasa haus ini bukanlah ukuran dehidrasi pada seseorang. Walaupun berada dalam ruangan berhawa dingin, tubuh tetap membutuhkan asupan cairan.
Menurut guru besar Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Ir H Hardinsyah, MS, cairan tubuh tetap keluar walau manusia berada di ruangan berhawa dingin. “Keluarnya tak hanya melalui keringat atau urine,” katanya di Semarang beberapa waktu lalu. Tapi juga melalui rongga kulit dan napas.
Hardinsyah mencontohkan, jika seseorang berada dalam ruangan berpenyejuk udara, cairan tubuhnya biasanya keluar melalui rongga kulit. “Biasanya kulit akan jadi kering,” katanya. Sedangkan jika berada di dataran tinggi, yang hawanya lebih dingin, cairan tubuh bisa keluar lewat napas. “Makanya napasnya seperti keluar asap,” katanya.
Pemahaman masyarakat akan kebutuhan cairan saat berada di lingkungan berhawa dingin ini memang masih kurang. Hardinsyah, dalam penelitiannya di enam kota yang berhawa dingin (Lembang, Malang, dan Malino) serta panas (Jakarta, Surabaya, dan Makassar), mendapati masyarakat yang berada di lingkungan berhawa dingin tak tahu bahwa mereka juga tetap membutuhkan asupan cairan.
Dalam penelitian The Indonesian Regional Hydration Study pada Agustus 2008 sampai Agustus 2009 ditunjukkan bahwa dehidrasi ringan yang menimpa warga yang tinggal di dataran tinggi, yang berhawa dingin, cukup tinggi. Berdasarkan usia, remaja yang terkena dehidrasi ringan mencapai 43 persen. Sedangkan pada orang dewasa mencapai 35,4 persen. Dari penelitian yang sama, hanya 3,3 persen responden remaja yang tahu bahwa, jika berada di lingkungan dingin, tubuh tetap membutuhkan asupan cairan.
Hardinsyah menyatakan perilaku minum air ini juga dipengaruhi oleh kebersihan kamar kecil. Hal ini umumnya terjadi pada wanita. Dia menjelaskan, karena kamar kecil yang kotor, wanita malas buang air kecil. Untuk menghindari sering kencing, mereka mengurangi jumlah konsumsi air. “Kebersihan kamar kecil ini juga patut diperhatikan.”
Ciri-ciri dehidrasi ini mudah ditengarai. Rasa haus, urine berwarna pekat dan sedikit jumlahnya, bibir kering, lelah, serta pusing adalah ciri-ciri terkena dehidrasi. Jika seseorang kehilangan cairan tubuh 1,5 persen dari total berat badannya, ia akan merasa lelah, susah berkonsentrasi, dan kemampuan fisiknya turun. “Kehilangan cairan 4 persen saja, kemampuan tubuh (berkurang) hingga seperempatnya,” kata Hardinsyah. Kemampuan yang berkurang di antaranya daya ingat jangka pendek atau jangka panjang.
Hardinsyah menjelaskan, kebutuhan air bagi tubuh merupakan kebutuhan terbesar. Jika selama ini makanan sehat dikenal dengan empat sehat (karbohidrat, protein, sayur, dan buah) lima sempurna (susu), sebenarnya kebutuhan air jumlahnya lebih besar daripada karbohidrat.
Kebutuhan air sehari dua liter setara 2.000 gram. Jumlah ini lebih besar dibanding kebutuhan nutrisi lainnya. Yakni, karbohidrat 350 gram, protein 55 gram, dan lemak 60 gram. Ke depan, empat sehat lima sempurna ini akan direvisi dengan memasukkan unsur air sebagai bagian yang paling bawah, yang artinya jumlahnya paling banyak dibutuhkan dibanding nutrisi yang lain(Source)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar dibawah ini.......
siapapun bisa berkomentar disini
gunakan profil "anonymouse" jika anda tidak mempunyai akun profil sama sekali.

Masukan Email Anda Untuk Berlannganan